My Nohara family :D
Left to right : Nohara Shinosuke, (Icen), Nohara Himawari (Tami), Nohara Hiroshi (Isal), Nohara Misae (Me), Miiko-Chan (Ditha), Kurumi-Chan (Farras)
1 month ago- Maria: Yo!
- Wahyudio: Apaan?
- Aku: Kita sudah berkesimpulan
- Wahyudio: Apaan?
- Maria: Lain kali, cari cewek yang cantik luar dalam ya
- Wahyudio: Kenapa emangnya
- Aku: Ya pokoknya gitu aja, harus lebih hati hati milih
- Wahyudio: Kalian apaan sih?
- Aku: Pastikan Kumisnya nggak tumbuh lagi juga, kalau tumbuh lagi, cukur pake Gilet*e yang tajem!
- Wahyudio: Gue udah move on kalii -,-
- agak random tapi penting. *Bagian mananya?
Di setiap kisah, apalagi kisah persahabatan. Pasti ada ratusan bahkan ribuan kisah yang dibagi, air mata dan tawa yang dirasakan bersama, dan sebagian besar rahasia yang dibeberkan. Begitu pula dengan persahabatan mereka, sudah terlalu banyak cangkir teh yang mereka nikmati bersama di depan teras rumah ketika hujan. Begitupun pelangi, mungkin sudah puluhan kali mereka duduk termenung berdua, menanti pelangi. Menari riang saat untaian warna inti muncul, dan kembali pulang bergandengan tangan saat pelangi kembali bersembunyi. Perasaan, hal itu sudah habis rasanya dibagi berdua. Tak ada lagi yang mereka miliki kecuali satu. Satu rahasia yang masih terikat, belum ingin meluap keluar. Yang saat mencuat keluar, waktunya mungkin tepat, mungkin juga tidak.
23 November 2006
Seperti hari biasanya mereka berhadapan di dua bangku dan sebuah meja kayu kecil berbentuk bundar. Sepiring omelette masih hangat dan belum tersentuh oleh siapapun tersedia di meja. Makanan favorit mereka yang biasanya tandas dalam waktu kurang dari sepuluh menit itu berubah tidak enak. Suasana beku akhirnya muncul juga, setelah beberapa dasawarsa tidak pernah unjuk kemampuannya. Membuat dua individu yang sudah saling berbagi genggaman tangan itu merasa canggung.
”Aku sudah baca,” pembicaraan dimulai oleh si gadis.
Teman dihadapannya hanya mengagguk. Bingung huruf huruf apa yang seharusnya keluar.
“Tapi…” suara kecil keluar lagi lagi dari mulut si gadis.
Wajah sahabat yang sudah gadis itu kenal sejak pertama kali ia belajar berjalan mendongak setelah tigapuluh menit ia tindukkan menunggu. Jawaban.
“Kamu tau Flio, we are bestfriend, you are my brother.” Ikatan mereka hanya sahabat, hanya kakak adik. ”Even you are closer to me than my real brother.”
Tidak ada hubungan darah diantara mereka. Hanya saja aliran nadi mereka sudah saling menyatu sejak pertama mereka melakukan janji jari kelingking. Itu 12 tahun yang lalu. Saat itu Flio dan Etera masih kecil. Mereka berlarian di padang rumput kecil dekat rumah mereka. Kelingking mereka terkait satu sama lain, sambil mengucapkan janji untuk saling menjaga. Dan Flio masih memegang janji itu hingga kini, umurnya genap duapuluh empat.
Situasi ini membuat Flio berkali kali membetulkan letak kacamatanya. Dirinya terkadang terjebak pada perasaannya sendiri pada Etera. Perempuan itu membiarkan rambutnya terurai, mengenakan kaus berkerah sabrina berwarna putih. Wajahnya cantik tanpa riasan apapun. Tentu saja wajahnya tidak akan memakai make up, ini jam 1 malam. Di sebuah cafe kecil yang buka duapuluh empat jam mereka membicarakan tentang yang kemarin lusa Flio kirimkan.
Amplop berwarna putih itu kembali disodorkan oleh Etera pada empunya. Amplop yang dua hari ini tersimpan di sakunya. Berisi beberapa rahasia kecil. Sahabatnya Fio menyimpannya. Tidak ingin membeberkannya. Tetapi kini rahasia itu tumpah ruah memenuhi kepalanya. Membasahi sela-sela jarinya yang kian mengepal karena merasa bersalah. Flio menyimpan banyak perasaan yang melebihi semuanya, semua yang telah mereka miliki sekarang.
Flio, si wartawan itu. Masih duduk di bangkunya saat Etera berdiri.
“Aku harap kita nggak bertemu lagi Flio, untuk kebaikanmu. Kebaikan hatimu. Aku nggak ingin perasaan kamu itu bertambah banyak. I love you too.” kalimat terakhir Etera menjawab kalimat yang tertera di akhir surat Flio.
”As my brother.”
Mengakhiri malam yang lebih banyak diisi dengan bisu. Kacamatanya kembali tidak pada tempatnya, tetapi kali ini Flio tidak ingin membetulkan letaknya. Seperti hatinya kini, sudah tidak pada tempatnya lagi, tetapi ia tidak ingin, tepatnya tidak bisa membetulkannya lagi. Membuatnya kembali tersenyum, seperti mencari mawar di kerumunan krisan. Krisan yang sudah layu.
Entah ini salah atau tidak, tetapi semuanya sudah berubah
Aku rasa benar telah tidak sama lagi saat iu
Saat matamu tidak lagi jenaka, tetapi berubah cantik
Saat senyummu tidak lagi ceria, tetapi anggun
Saat rambutmu tidak lagi ikal, tetapi lurus terurai indah
Saat aku tahu, egoku tidak bisa mendahulukan dirinya sendiri bila ada kamu
Saat aku tahu, perasaanku lebih dari sekadar kakak untukmu
I love you Etera Glesia
23 November 2008
Dua tahun berselang semuanya tidak banyak berubah. Hanya saja rambut Flio yang rajin dipotong cepak kini agak panjang karena merasa enggan sering merawat dirinya. Tubuhnya yang kurus tinggi masih seperti dulu. Kini dia sudar menjadi editor sebuah majalah besar, kariernya menanjak signifikan sejak dua tahun lalu.
Kali ini lagi lagi jam satu malam. Flio memacu gas mobilnya melewati jalan raya yang lengang. Lampu jalanan yang biasanya remang remang menjadi terang, entah benar atau hanya perasaannya saja. Radio di mobilnya melantunkan lagu Secondhand Serenade kesukaannya. Dia tidak sabar untuk sampai di tempat tujuannya. Dua jam yang lalu Etera meneleponnya. Menanyakan keadaannya dan menyuruh Flio menghampirinya di tempat yang sama seperti hiasanya dan jam yang sama pula.
Flio tidak mengerti apa seharusnya dia senang atau sedih. Senang memikirkan ia akan bertemu orang yang ia titipkan hatinya. Tetapi juga sedih karena titipan hatinya itu tidak pernah dianggap.
Hujan turun.
Sampai di halaman parkir cafe Flio bergegas masuk. Jaket jeansnya basah karena tidak membawa pelindung apapun. Di dalam cafe Etera menunggunya. Menatap diam ke arah jendela yang bagian luarnya dibasahi hujan. Pandangannya tidak banyak berubah. Selalu bisa membuat Flio gugup. Dan senyum Etera, yang kini dilimpahkan pada Flio karena melihatnya muncul di pintu masuk membuat dirinya merasa lebih buruk. Dia sangat rindu senyuman itu.
Saat Flio mendekatkan diri pada meja bundar, Etera menatap lekat mata cokelat mudanya. Masih diam untuk sepuluh menit pertama. Tidak ada yang memulai pembicaraan hingga akhirnya kembali Etera yang buka mulut. Flio terkadang berfikir apa yang dimiliki gadis dihadapannya hingga mampu mengunci rapat mulutnya saat berhadapan dengannya langsung. Apakah bentuk alisnya yang terlampau sempurna, ataukah pipi yang dipulas blush on itu memiliki perekat hingga mata Flio tidak henti hentinya menujukan konsentrasi padanya.
”Apa perasaan itu masih ada?” Etera sedikit menunduk, kalimat pertama yang muncul setelah lama sepi yang melingkupi mereka.
”Maksudmu?”
”Yang waktu itu kamu bilang, kalau semuanya kamu anggap lebih dari persahabatan kita?”
Flio tersenyum sejenak lalu mengangguk.
Pandangan mata Etera berubah, kini penuh penyesalan. Rasanya satu detik di tempatnya duduk terlalu lama untuk bisa menyerap apa yang sedang ia rasakan.
”Do you believe me Flio? I just realized that I love you.” Etera kembali menatap mata Flio dengan lekat membuat Flio semakin ingin memeluknya.
”As your brother?”
”No, I love you as you, as Flio.”
Ratusan bintang rasanya mengangkat hatinya tinggi. Flio menganggap ini jawaban yang dia tunggu sejak bertahun lalu. Bayaran atas kesabarannya menunggu jawaban yang sesungguhnya selama dua tahun. Menunggu Etera kembali memberikannya senyum yang sangat Flio sukai.
”Reno?” Flio kini menyebutkan pacar terakhir Etera. Laki laki yang didambakan gadis itu selama lebih dari tujuh tahun yang akhirnya menjadi kekasihnya.
”Sebentar lagi dia bukan pacarku.”
Jawaban yang aneh. Pikir Flio. Tetapi apa pedulinya? Kini Etera dihadapannya, tidak akan pergi lagi. Tangannya meraih tangan Etera yang sedari tadi ada di sebelah cangkir cappuccino yang sepertinya sudah dingin karena lama waktu Etera menunggunya.
”You should remember my words.” Ucap Etera.
Tentu, aku pasti akan sangat mengingatnya. Ucap Flio dalam hati. Genggamannya erat, seperti hatinya yang tidak ingin Etera pergi lagi.
”I love you Fliode Gemini.”
sejurus kemudian Etera berdiri dari tempat duduknya, tampak terburu buru.
”Sampai ketemu dua hari lagi.”
Dengan senyum yang entah artinya apa Etera berlalu. Flio diam, tidak menahannya pergi. Dia terlalu tidak mempercayai apa yang dia dapatkan barusan. Dia kembali tersenyum kecil. Malam itu sangat membahagiakan dirinya. Lebih indah dari malam waktu ia dan Etera menangkap bintang jatuh tigabelas tahun yang lalu. Hatinya kini sampai ke bulan. Melayang tidak ingin turun.
”Maaf, perempuan tadi titip ini.” Seorang waitress menghampiri Flio membuyarkan lamunannya. “Katanya ini harus dikasihkan setelah dia pergi.” Tambahnya lagi.
Flio bingung, dengan penasaran ia membuka amplop berwarna ungu. Ada foto Etera tersenyum disana. Tetapi dia tidak sendiri.
Engagement Party
Reno and Etera
28 November 2008
1 month ago
Kornea. Iris. Pupil. Aqueous humor. Retina.
Di mana semua berkumpul, menjadi satu. Garis cahaya yang membuatku bisa membuka kelopak. Lalu berjalan dengan lurus ke sebuah titik. Titik dimana aku mengenalmu.
***
Baru beberapa langkah aku berjalan dari depan toko merangkap rumah yang aku tinggali 5 tahun terakhir, aku terhenti. Badanku melawan untuk terus berjalan, tetapi sesuatu membuat kakiku tidak bisa digerakkan. Rasanya seperti ingin berlalu teapi tidak bisa.
“Mau ke taman?”
“Ya,” aku menjawab suara dari hadapanku.
“Cerita baru ya?”
Aku mengangguk.
Lalu dia pergi. Melewati pundak kananku. Rasanya seperti terbebas, Aku bisa kembali berjalan. Apa yang terjadi barusan? Seperti ada kekuatan magis menggerakkan badanku untuk berhenti dan bercakap satu dua kalimat dengannya. Tanpa bersalaman, atau melambaikan tangan. Percakapan sederhana yang aku tidak pernah tahu dari mana asalnya dan berlanjut dengan apa.
Bahkan kini aku bertanya, mengapa aku bercakap dengannya?
***
Aku menulis cerita lepas untuk sebuah media. Beberapa cerita pendek yang sebentar lagi akan dibukukan. Setiap cerita pendek, aku menulisnya di tempat yang berbeda. Untuk ceritaku kali ini, taman adalah tempat yang pas.
Di sebuah bangku taman kecil aku membuka komputer jinjing putihku. Limited edition, dari luar negeri. Beberapa fitur spesialnya memudahkan pekerjaan milikku. Adikku sangat baik membelikanku ini bulan lalu, jika tidak, aku akan selalu kesusahan memakai komputerku yang lama setiap membuat cerita baru.
Kali ini apa? Ide di otakku tidak juga muncul.
Di satu sudut taman banyak anak-anak bermain. Suaranya riuh sekali. Adakah kisah yang menarik diantara mereka? Sepertinya ada, hanya saja kali ini pekikan anak-anak itu tidak memperlancar aliran energi dan imajinasi ke kepalaku.
Beberapa suara sayup pula terdengar. Asalnya dari atas pohon. Kicauan burung kecil dengan induknya.
“Bagaimana kalau cerita tentang burung kecil itu saja,” kata sebuah suara dari arah kiri mengagetkanku.
Apa dia pembaca pikiran? Dia membucarakan hal yang ada di otakku sedari tadi pagi.
Dia. Yang tadi pagi berpapasan denganku. Kini muncul lagi. Melibatkanku di percakapan yang ternyata ada lanjutannya. Kukira kata-kata kami hanya terbatas yang empat kalimat tadi. Ternyata ia ada disini pula. Apa dia mengikutiku?
“Burung?” Tanyaku penuh penasaran.
“Ya, tentang burung dan induknya. Bagaimana menurutmu?”
“Mungkin aku bisa memikirkannya. Apa kamu bisa memberiku beberapa petunjuk lain?”
Dia sejenak diam, sepertinya berpikir.
“Mungkin kamu bisa mengaitkan burung-burung itu dengan cahaya?”
Hmm, cahaya. Kali ini aku yang berpikir.
“Mungkin akan aku coba.” aku menanggapi.
Tidak ada jawaban. Aku kembali fokus pada layar tipis di hadapanku.
***
Seekor burung yang masih kecil bertengger di sarangnya. Ia menjerit kecil saat melihat kepakan sayap induknya di atas kepala. Pinggiran sarang tidak memungkinkannya melihat sekeliling sarang. Tubuhnya terlalu kecil untuk memanjat atau mengintip. Kini ia mulai menangis pada ibunya.
Induk burung dengan lembut membelai anaknya. Tapi anak burung itu tetap menangis.
“Mengapa kau terus menangis nak?”
Ibu burung masih menunggu jawaban anaknya. Tetapi anak itu terus menangis. Kesedihannya berlebihan. Seperti kehilangan sesuatu.
“Ibu.” Akhirnya paruh kecilnya dibuka dengan hati-hati menmanggil ibunya.
“Ya, nak?”
“Kenapa warna-warni sayapku hilang?” anak burung takut-takut bertanya. Sepertinya itu yang membuatnya gundah.
Ibunya tersenyum. Burung jenis mereka memang memiliki warna sayap yang indah, dan anaknya, walaupun masih kecil, sudah memiliki bulu yang tumbuh dengan warna lembut di sayapnya. Induk burung tidak menjawab apa-apa. Ia lalu terbang ke arah dahan pohon di atas sarang mereka, dan dengan kuat menggeser dahan hingga cahaya matahari bisa menelusup masuk kembali ke sarang mereka dan tubuh anaknya. Seperti beberapa hari yang lalu.
Rupanya dahan itu mulai memanjang sehingga cahaya matahari tidak lagi sampai di rumah mereka.
Anak burung tersenyum saat melihat kembali sayapnya yang berwarna warni.
“Ini hanya masalah cahaya nak.” Ibu burung kembali ke sarang dan hinggap di samping anaknya. “Kita membutuhkan cahaya untuk melihat sesuatu dengan jelas, termasuk warna-warni indah di sayap kecilmu itu. Percuma saja sayap seindah apapun jika tanpa cahaya. Cahaya itu penting untuk memandang sesuatu dari sudut pandang yang lain, yang lebih indah.“
Cahaya, warna-warni, hidup. Tiga hal yang dekat sekali dengan nadi kita. Terkadang manusia lupa untuk menyibak dahan saat melihat sesuatu. Membiarkan cahaya menerangi kehidupan dengan jelas, hingga akhirnya bisa mulai mencintai hal itu. Semua hal yang terang dan tersinar tidak akan mengecewakan. Karena Tuhan selalu sempurna dalam mencipta.
***
Sayap, hati, retina. Tempat dimana cahaya itu seharusnya ada, bagian-bagian hidup yang tidak bisa terlepas satu satu jika ingin dengan sempurna memandang berda-benda berkilauan dibawah cahaya.
Tapi Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu dengan tidak sempurna.
Dan bagiku, sempurna berarti lebih luas dari sekedar memandang spektrum aneka warna berdesakan memasuki bola mata.
***
Ceritaku kembali disukai pembaca bulan lalu. Cerita tentang burung itu ternyata bagi mereka sangat menyentuh. Untuk cerita bulan ini, aku duduk di sebuah pinggiran pantai untuk menulis. Dan aku kembali berpikir. Kini aku merasa sangat iri pada anak burung itu. Memiliki sayap indah dan mampu memandang cahaya dengan baik adalah impianku dari kecil.
“Kali ini cerita apa?” Suara itu lagi.
“Tentang mata.” Aku menjawab mantap.
“Pasti akan sangat bagus.” Suara itu menjawab lagi.
“Ya, pasti akan sangat bagus.” Aku tersenyum.
***
Kalau aku memiliki pilihan, antara sayap dan cahaya. Maka aku akan memilih yang kedua. Selain akan janggal melihat manusia memiliki sayap, aku mencintai cahaya itu sekarang. Melihatnya kini menjadi lebih dari sekedar impian, tapi obsesi. Aku ingin melihat benda dengan warna mereka. Aku ingin menjadi pengamat yang baik. Ingin merasakan ribuan garis cahaya menyentuh retinaku yang sedari kecil tidak berfungsi.
Tidak ada yang bisa kulihat selain bayangan gelap di setiap hari. Tidak ada yang bisa ku sentuh selain duniaku.
Beruntungnya aku masih bisa berbagi cerita dengan pembacaku, dan sesekali suara perempuan misterius yang menyapaku di jalan, atau memberi ide untuk ceritaku selanjutnya.
Aku bersyukur dengan hidupku sekarang, walaupun obsesi bagiku hanya menjadi asap yang tidak bisa direngkuh. Walaupun cahaya bagiku menjadi hal yang sangat abstrak dan tidak tergapai. Walaupun bagiku teman yang hanya satu orang. Yang menanyakan kabarku hari ini.
“Hai, apa kabarmu kali ini? Ceritamu apa sudah selesaikah?”
“Belum, hanya tinggal editing terakhir dan akan terbit di edisi mendatang.” Aku menjawab kali ini dengan nada lebih baik dari kemarin.
Juga senyuman kecil
***
Dari kejauhan, seorang ibu menitikkan air matanya melihat anak lelaki sulungnya yang tunanetra tersenyum senang. Sudah lama sejak bibirnya tersungging senyum terakhir kali. Lelaki tu duduk di pinggir pantai dengan memangku komputer jinjing sambil berbicara.
Ia duduk sendirian tetapi seperti sedang bercengkrama. Hatinya bercampur puluhan rasa. Anaknya itu bisa tersenyum lagi, ia sangat senang.
Tetapi melihatnya berbicara pada diri sendiri, membuatnya merasa teriris.
1 month ago
~ RectoVerso, Grow a Day Older
theme by: heloísa teixeira

